Minggu, 01 November 2020

Bahasa Indonesia

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

  1. 1.Pertumbuhan Perkembangan Bahasa Indonesia

Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca

        Diperkirakan Pada abad ke-7 Kerajaan Sriwijaya, ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Prasasti Kedukan Bukit oleh Sriwijaya dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno berhuruf Pallawa (India). Pada masa itu juga bahasa Melayu Kuno dipakai untuk kerluan    perdagangan, soasial, politik dan bahasa pengantar mempelajari bahasa Sanskerta dan agama Buddha. Dan pada abad ke-13 bahasa Melayu Kuno mulai berkembang pada berbagai tempat di Indonesia terutama pada masa Hindu dan masa kedatangan Islam dimana para pedagang Melayu yang berkeliling di Indonesia memakai bahasa Melayu sebagai Lingua Franca atau bahasa Pengantar. Kemudian pada abad ke-14 saat Sriwijaya mulai meredup dan Samudra Pasai tumbuh sebagai kota dagang baru di bagian utara Selat Malaka dan Basa Melayu semakin mapan sebagai Lingua Franca di kawasan Asia Tenggara.          

  • Sistem Bahasa Melayu Praktis dan Sederhana

        Bahasa melayu adalah bahasa yang bersifat sangat sederhana, tidak ada tingkatan bahasa sehingga bahasa melayu sangat mudah di pelajari, berbeda denga bahasa daerah Indonesia seperti bahasa jawa, sunda, bali, Sumatra, dan Kalimantan yang memiliki tingkatan dalam berbahasa.

  • Kebutuhan Politik

        Bahasa Indonesia sifatnya adalah politis, karena setujuan dengan nama negara yang diidam-idamkan yaitu Bangsa Indonesia. Sifat politik ditimbulkan karena keinginan agar bangsa Indonesia mempunyai semangat juang bersama-sama dalam memperoleh kemerdekaan agar lebih merasa terikat dalam satu ikatan: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa.

  • Faktor Perkembangan Bahasa Indonesia, waktu, politik, sosialbudaya dan IPTEK

      Waktu :

1.      Fase sebelum kolonial (Prakolonial) pada fase ini ada beberapa buku yang tertulis tentang bahasa melayu tua yang ditentukam .

2.      Fase colonial pada fase ini sekitar abad XVI orang – orang barat sudah sampai di Indonesia, mereka telah menemukan bahwa bahasa melayu telah di gunakan sebagai bahasa resmi.

3.      Fase pergerakan, pada fase ini dimulai pada tahun 1901. Pada tahun ini telah disusun ejaan resmi Bahasa melayu Van Ophuysen yang merupakan cikal bakal ejaan Bahasa Indonesia. 

  • Politik

Nama bahasa Indonesia tersebut sifatnya adalah politis, karena satu tujuan dengan nama negara yang diidam-idamkan yaitu Bangsa Indonesia. Sifat politik ditimbulkan karena keinginan agar bangsa Indonesia mempunyai semangat juang bersama-sama dalam memperoleh kemerdekaan agar lebih merasa terikat dalam satu ikatan: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia diikrarkan melalui butir-butir Sumpah pemuda. Pada ketiga ikrar tersebut terdapat perbedaan ikrar yaitu pada kata mengaku dan menjunjung. 

Ikrar pertama dan kedua menyatakan ”mengaku bertumpah darah yang satu dan mengaku berbangsa yang satu”. Artinya, tanah air dan bangsa kami hanya satu yaitu Indonesia. Berbeda dengan ”menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Ikrar ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Tidak berarti bahwa, bahasa daerah dihapuskan. Bahasa daerah tetap harus dijaga dan dilestarikan sebagai kekayaan budaya bangsa.

Jadi, sangatlah keliru jika ada warga daerah yang malu menggunakan bahasa daerahnya dalam berkomunikasi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan diartikan sebagai bahasa yang digunakan di dalam kegiatan berkomunikasi yang melibatkan banyak tokoh atau masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Itulah sebabnya bahasa Indonesia memiliki fungsi dan kedudukan sebagai bahasa persatuan.

  • Sosial Budaya

Kita tinggal di negara yang terdiri dari banyak sekali pulau, maka tentu saja bahasa kita berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam mendalami sosial budaya daerah tertentu seseorang harus bisa menguasai bahasa daerah tertentu, dan sebaliknya. Untuk mudah berkomunikasi dengan orang luar, maka orang daerah juga harus bisa menguasai Bahasa Nasional. Oleh karena itu, sosial budaya dapat membuat bahasa semakin berkembang.

  • IPTEK

buku-buku yang dipergunakan untuk memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi menggunakan bahasa Inggris. Keadaan tersebut tidak sebaik pada bahasa Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, sebagian besar ilmu pengetahuan masih asing. Untuk itu, bangsa Indonesia perlu membiasakan sikap ilmiah dengan cara melengkapi buku-buku ilmiah sebagai salah satu syarat.

  1. 2.     Sejarah Bahasa Indonesia

  • Sebelum Kemerdekaan

18 Mei 1918, pada saat itu Bahasa Melayu mendapat pengakuan sebagai bahasa resmi kedua setelah bahasa Belanda Dibentuknya Volksraad (Dewan Rakyat), tetapi saat persidangan anggota bumiputra tidak banyak yang memanfaatkannya

27 Oktober 1927, Jahja Datoek Kajo (anggota Volksraad atau Dewan Rakyat) saat membacakan pidato-pidatonya di Volksraad selalu menggunakan bahasa Indonesia dan ia meminta agar hadirin yang ingin menyela pembicaraannya agar menggunakan bahasa Indonesia, yang membuat wakil-wakil Belanda marah. Atas keberaniannya itu Koran-koran pribumi memberinya gelar “Jago Bahasa Indonesia di Volksraad)

28 Oktober 1928, Bahasa Indonesia lahir. pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam kerapatan Pemuda dan berikrar Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia, Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia, dan Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia. Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.

  • Setelah Kemerdekaan

18 Agustus 1945 Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

19 Maret 1947 peresmian Pengguaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) pengganti Ejaan Van Ophusyen yang berlaku sebelumnya.

1. Ejaan Van Ophusyen

- Huruf ї untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya huruf disuarakan tersendiri dengan dipotong seperti mulaї dengan ramai.

- Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.

- Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.

2. Ejaan Soewandi

- Huruf oe diganti dengan u.

- Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata tak.

- Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak - anak.


Penulis Astri Yastika, Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi 

dan Bisnis 

Uninversitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Paragraf

  Pengertian Paragraf Paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Sebuah paragraf bias...