Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
- 1.Pertumbuhan Perkembangan Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca
Diperkirakan Pada abad ke-7 Kerajaan Sriwijaya, ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Prasasti Kedukan Bukit oleh Sriwijaya dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno berhuruf Pallawa (India). Pada masa itu juga bahasa Melayu Kuno dipakai untuk kerluan perdagangan, soasial, politik dan bahasa pengantar mempelajari bahasa Sanskerta dan agama Buddha. Dan pada abad ke-13 bahasa Melayu Kuno mulai berkembang pada berbagai tempat di Indonesia terutama pada masa Hindu dan masa kedatangan Islam dimana para pedagang Melayu yang berkeliling di Indonesia memakai bahasa Melayu sebagai Lingua Franca atau bahasa Pengantar. Kemudian pada abad ke-14 saat Sriwijaya mulai meredup dan Samudra Pasai tumbuh sebagai kota dagang baru di bagian utara Selat Malaka dan Basa Melayu semakin mapan sebagai Lingua Franca di kawasan Asia Tenggara.
- Sistem Bahasa Melayu Praktis dan Sederhana
Bahasa
melayu adalah bahasa yang bersifat sangat sederhana, tidak ada tingkatan bahasa
sehingga bahasa melayu sangat mudah di pelajari, berbeda denga bahasa daerah Indonesia
seperti bahasa jawa, sunda, bali, Sumatra, dan Kalimantan yang memiliki
tingkatan dalam berbahasa.
- Kebutuhan Politik
Bahasa Indonesia sifatnya adalah politis, karena setujuan dengan nama negara yang diidam-idamkan yaitu Bangsa Indonesia. Sifat politik ditimbulkan karena keinginan agar bangsa Indonesia mempunyai semangat juang bersama-sama dalam memperoleh kemerdekaan agar lebih merasa terikat dalam satu ikatan: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa.
- Faktor Perkembangan Bahasa Indonesia, waktu, politik, sosialbudaya dan IPTEK
Waktu :
1. Fase sebelum
kolonial (Prakolonial) pada fase ini ada beberapa buku yang tertulis tentang
bahasa melayu tua yang ditentukam .
2. Fase colonial
pada fase ini sekitar abad XVI orang – orang barat sudah sampai di Indonesia,
mereka telah menemukan bahwa bahasa melayu telah di gunakan sebagai bahasa
resmi.
3. Fase pergerakan,
pada fase ini dimulai pada tahun 1901. Pada tahun ini telah disusun ejaan resmi
Bahasa melayu Van Ophuysen yang merupakan cikal bakal ejaan Bahasa Indonesia.
- Politik
Nama bahasa Indonesia tersebut sifatnya adalah politis, karena satu tujuan dengan nama negara yang diidam-idamkan yaitu Bangsa Indonesia. Sifat politik ditimbulkan karena keinginan agar bangsa Indonesia mempunyai semangat juang bersama-sama dalam memperoleh kemerdekaan agar lebih merasa terikat dalam satu ikatan: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia diikrarkan melalui butir-butir Sumpah pemuda. Pada ketiga ikrar tersebut terdapat perbedaan ikrar yaitu pada kata mengaku dan menjunjung.
Ikrar pertama dan kedua menyatakan ”mengaku bertumpah darah yang satu dan mengaku berbangsa yang satu”. Artinya, tanah air dan bangsa kami hanya satu yaitu Indonesia. Berbeda dengan ”menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Ikrar ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Tidak berarti bahwa, bahasa daerah dihapuskan. Bahasa daerah tetap harus dijaga dan dilestarikan sebagai kekayaan budaya bangsa.
Jadi, sangatlah keliru jika ada warga daerah yang malu menggunakan
bahasa daerahnya dalam berkomunikasi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan
diartikan sebagai bahasa yang digunakan di dalam kegiatan berkomunikasi yang
melibatkan banyak tokoh atau masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di
Indonesia. Itulah sebabnya bahasa Indonesia memiliki fungsi dan kedudukan
sebagai bahasa persatuan.
- Sosial Budaya
Kita tinggal
di negara yang terdiri dari banyak sekali pulau, maka tentu saja bahasa kita
berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam mendalami sosial budaya daerah tertentu
seseorang harus bisa menguasai bahasa daerah tertentu, dan sebaliknya. Untuk
mudah berkomunikasi dengan orang luar, maka orang daerah juga harus bisa
menguasai Bahasa Nasional. Oleh karena itu, sosial budaya dapat membuat bahasa semakin
berkembang.
- IPTEK
buku-buku
yang dipergunakan untuk memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi
menggunakan bahasa Inggris. Keadaan tersebut tidak sebaik pada bahasa
Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, sebagian besar ilmu pengetahuan masih asing.
Untuk itu, bangsa Indonesia perlu membiasakan sikap ilmiah dengan cara
melengkapi buku-buku ilmiah sebagai salah satu syarat.
- 2. Sejarah Bahasa Indonesia
- Sebelum Kemerdekaan
18 Mei 1918, pada saat itu Bahasa Melayu
mendapat pengakuan sebagai bahasa resmi kedua setelah bahasa Belanda Dibentuknya
Volksraad (Dewan Rakyat), tetapi saat persidangan anggota bumiputra
tidak banyak yang memanfaatkannya
27 Oktober 1927, Jahja Datoek Kajo (anggota
Volksraad atau Dewan Rakyat) saat membacakan pidato-pidatonya di Volksraad
selalu menggunakan bahasa Indonesia dan ia meminta agar hadirin yang ingin
menyela pembicaraannya agar menggunakan bahasa Indonesia, yang membuat
wakil-wakil Belanda marah. Atas keberaniannya itu Koran-koran pribumi
memberinya gelar “Jago Bahasa Indonesia di Volksraad)
28 Oktober 1928, Bahasa Indonesia lahir.
pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam
kerapatan Pemuda dan berikrar Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia, Berbangsa
Yang Satu, Bangsa Indonesia, dan Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia.
Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa
Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.
- Setelah Kemerdekaan
18 Agustus 1945 Bahasa Indonesia dinyatakan
kedudukannya sebagai bahasa negara, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar
1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
19 Maret 1947 peresmian Pengguaan Ejaan
Republik (Ejaan Soewandi) pengganti Ejaan Van Ophusyen yang berlaku sebelumnya.
1. Ejaan Van Ophusyen
- Huruf ї untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran
dan karenanya huruf disuarakan tersendiri dengan dipotong seperti mulaї dengan
ramai.
- Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang,
dsb.
- Huruf oe untuk menuliskan kata-kata
goeroe, itoe, oemoer, dsb.
2. Ejaan Soewandi
- Huruf oe diganti dengan u.
- Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti
pada kata tak.
- Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak - anak.
Penulis Astri Yastika, Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi
Uninversitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka