Senin, 18 Januari 2021

Paragraf


 Pengertian Paragraf

Paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat.

Sebuah paragraf biasanya terdiri dari pikiran, gagasan atau ide pokok yang dijelaskan dengan kalimat pendukung. Pembuatan paragraf terdiri dari fakta dan opini yang berisi tentang penjelasan berdasarkan kenyataan yang terjadi kemudian diberi pikiran penjelas berupa pendapat penulis.


Fungsi Pembentukan Paragraf

Sebuah paragraf biasanya terdiri dari pikiran, gagasan atau ide pokok yang dijelaskan dengan kalimat pendukung. Pembuatan paragraf terdiri dari fakta dan opini yang berisi tentang penjelasan berdasarkan kenyatan yang terjadi kemudian diberi pikiran penjelas berupa pendapat penulis.

Paragraf dibuat oleh pengarang tentunya memiliki beberapa fungsi yang akan memudahkan pengarang tersebut membuat tulisan. Adapun fungsi pembentukan paragraf adalah sebagai berikut:

a.    Menampung bagian kecil gagasan utama karangan

b.  Memudahkan pemahaman jalan pikiran pengarang dengan cara memisahkan pikiran utama yang satu dari yang lainnya

       c.  Pengarang melahirkan pikiran secara sistematis

       d.  Pembaca mudah mengikuti alur dan memahami alur pikiran pengarang 

       e. Sebagai tanda pikiran baru dimulai

       f. Memungkinkan perhentian lebih lama daripada akhir kalimat dan konsentrasi terhadap pikiran utama


    Syarat-Syarat Pembentukan Paragraf

       membuat paragraf terdapat syarat-syarat pembentukan paragraf, agar mempermudah dalam menuangkan ide dan gagasan dalam penulisan paragraf. Syarat-syarat pembentukan sebuah paragraf diantaranya:


1. Kesatuan (dalam satu paragraf hanya berisi satu pikiran utama)

2 Kepaduan (hubungan antar kalimat dalam satu paragraf berkaitan)

3 Isinya relevan dengan karangan

4 Pengembangan (sebuah kalimat utama dalam sebuah paragraf, dikembangkan dengan   kalimat-kalimat penjelas)

5  Menggunakan Bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baik berkaitan dengan ragam, diksi, keefektifan yang pemakaiannya disesuaikan dengan situasi, sedangkan Bahasa yang benar, jika sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa.

Unsur Paragraf

1. Kesatuan

         Kalimat-kalimat dalam satu paragraf harus menggambarkan hubungan dan menunjukkan ikatan untuk mendukung satu gagasan dan pikiran sebagai pokok pikiran. Kesatuan berarti ada hubungan mengenai masalah dan tema dalam pengembangan

Contoh

Tema : Budaya Indonesia

         Keindahan Indonesia beranekaragam dan tiada batasnya. Indonesia memiliki berbagai budaya yang indah, seperti tarian, pakaian tradisional, lagu daerah, adat istiadat, bahasa dan lainnya. Banyaknya budaya di Indonesia membuat Negara ini memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Perbedaan budaya Indonesia dipersatukan dengan adanya bahasa indonesia

2. Koherensi

       Kekompakan hubungan antar sebuah kalimat dengan kalimat lainnya yang membentuk satu paragraf. Koherensi atau kepaduan yang baik terjadi hubungan timbal balik antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain.

Misalnya, dalam kalimat awal menjelaskan tentang keindahan Indonesia, maka dalam satu paragraf tersebut berisi hal yang sama

3. Pengembangan

         Gambaran mengenai kesatuan dan penyatuan akan jelas terlihat dalam pengembangan paragraf. Informasi-informasi dan keterangan yang diberikan ada hubungannya dengan kalimat-kalimat yang harus berkembangan dalam paragraf tersebut.

    Kerangka Paragraf

Sebelum membuat paragraph,sebaiknya menyusun kerangka paragraf. Karena dengan menyusun kerangka paragraf, maka akan mempermudah penulis dalam membentuk sebuah paragraf. Penyusunan paragraf sebagai berikut:

1 Menentukan tema

2 Menentukan ide pokok dengan menuangkan kalimat yang menjadi ide dasar paragraf

3 Memberikan detail pendukung untuk mendukung gagasan utama

4 Menuliskan kalimat penjelas untuk mendukung ide pokok


Jenis Paragraf

Paragraf dapat dibagi berdasarkan isi dan letak kalimat utamanya. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

1  Jenis Paragraf Berdasarkan Isi

a  Narasi              

     Narasi adalah paragraf yang menceritakan atau mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa, bentuk ini mementingkan urutan kejadian, dan tokoh (Sudarno, 1997:117)

  Contoh :

        Amir berjalan cepat menuju pintu rumahnya karena merasa khawatir seseorang akan memergoki kedatangannya. Dengan pelan-pelan dia membuka pintu. Ia begitu terkejut Ketika pintu terbuka seorang lelaki berwajah buruk tiba-tiba berdiri di hadapannya. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengayunkan tinjunya ke arah perut lelaki misterius itu. Ia semakin terkejut karena ternyata lelaki itu tetap bergeming. Raut muka lelaki itu semakin menyeramkan, bagaikan seekor singa yang siap menerkam. Anak itu pun  memukulinya berulang kali hingga ia terjatuh tak sadarkan diri.

b Deskripsi

    Deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan suatu objek sehingga pembaca seakan bisa melihat, mendengar atau merasa objek yang digambarkan itu. Objek yang dideskripsikan dapat berupa orang, benda, atau tempat. Ciri-cirinya : ada objek yang digambarkan

Contoh :

    Penataan kota yang rapi selalu terasa disini, setiap jalan selalu dihiasi tempat sampah yang bagus. Suara delman setiap hari berkeliling membawa penumpang untuk menikmati  keindahan kota. Saat berasa di pasar tradisional Bringharjo, tidak pernah ketinggalan untuk membeli oleh-oleh batik yang indah, karena keindahannya dan harga yang terjangkau. Keramahan warga di kota ini pun tidak terlupakan, apalagi melihat kendaraan beroda tiga yang tinngi dengan daerah lainnya. Keindahan kota Yogyakarta selalu ingin dinikmati oleh wisatawan

c Eksposisi

   Eksposisi adalah paragraf yang menginformasikan suatu teori, teknik, kiat atau penunjuk sehingga orang yang membacanya akan bertambah wawasannya. Ciri-cirinya: ada informasi

Contoh:

    Beras adalah salah satu makanan pokok yang ada di Indonesia yang sudah dikonsumusi sejak zaman nenek moyang kita. Karena bahan makanan ini terkenal mengandung banyak karbohidrat dalam tubuh manusia. Beras adalah makanan yang berasal dari tanaman padi yang telah dipisahkan dari   kulitnya. Beras memiliki beberapa macam jenis dan setiap beras memiliki keunggulan masing-masing. Ada yang unggul pada kualitasnya, harganya bahkan unggul dari kandungan gizinya. Salah satu jenis beras yang menjadi favorit rakyat Indonesia adalah jenis beras ketan. Tetapi jenis beras ini tidak bisa digunakan sebagai makanan pokok, tetapi biasa dimanfaatkan untuk bahan baku makanan lainnya

d  Argumentasi

    Argumentasi adalah paragraf yang mengemukakan suatu pendapat beserta alasannya. Ciri-cirinya:  ada pendapat dan ada alasannya.

Contoh:

    Biaya Pendidikan di Indonesia saat ini bisa dikatakan mahal. Walaupun pemerintah sudah memberikan bantuan, tetapi tetap saja para siswa wajib membayar biaya untuk keperluan sekolah seperti seragam, baju, buku dan  lain sebagainya.

   Mahalnya biaya Pendidikan tersebut tidak hanya pada sekolah dasar saja, tetapi juga sampai di perguruan tinggi. Banyak anak yang telah lulus SMA lebih memilih bekerja dibandingkan dengan melanjutkan ke perguruan tinggi. Sehingga Pendidikan di Indonesia tidak merata dan hanya terkonsentrasi pada orang yang mampu. Sedangkan bagi orang yang kurang mampu, pendidikan tinggi hanya sebuah impian

e Persuasi

    Persuasi adalah paragraf yang mengajak, membujuk atau mempengaruhi pembaca agar melakukan sesuatu. Ciri-cirinya : ada bujukan atau ajakan untuk berbuat sesuatu.

Contoh:

     Menjaga Kesehatan gigi adalah suatu hal yang sangat penting. Sebaiknya, sebelum anda tidur, sikat gigi anda terlebih dahulu. Selain itu gunakanlah pasta gigi putih yang menggunakan bahan alami dan yang sama sekali tidak mengandung bahan kimia. Biasanya, bahan alami yang digunakan adalah   daun mint yang dicampurkan dengan susu. Ramuan tersebut mampu membuat gigi anda menjadi lebih putih dan sehat.

    Mulailah dengan menyikat gigi secara teratur dan dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung bahan alami agar gigi terlihat bersih dan sehat.


 2 Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utamanya

a  Paragraf deduktif

    Paragraf deduktif adalah paragraph yang dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas.

Contoh :

   Pendidikan karakter adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang mendorong peserta didik untuk lebih bertanggung  jawab dan disiplin. Ciri dari pendidikan karakter  adalah memahami bahwa  semua orang memiliki nilai sebagai manusia, memiliki rasa tanggung jawab,      dapat dipercaya dan mengakui kesalahan.

  Cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan pendidikan karakter pada peserta didik adalah dengan mengajarkan kerja sama dan kolaborasi   diantara siswa yang lebih ditekankan pada kompetisi. Tidak lupa ajarkan siswa untuk bersikap adil, jujur dan bertanggungjawab.

b. Paragraf Induktif

     Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan kemudian diakhiri dengan kalimat topik. Paragraf induktif dapat dibagi ke dalam tiga jenis yaitu generalisasi, analogi dan kausalitas.

1    Generalisasi adalah pola pengembangan paragraf yang menggunakan beberapa fakta khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat  umum  

Contoh :

    Pada hari Sabtu, Susi, Amir dan Ranti pergi mengunjungi korban bencana banjir di daerah Jakarta Timur. Mereka mengumpulkan beberapa pakaian, mie dan makanan ringan untuk dibagikan kepada  korban banjir. Ketiga anak tersebut merupakan siswa yang dermawan  dan peduli terhadap orang lain


2.  Analogi adalah pola penyusunan paragraf yang berisi perbandingan dua hal yang memiliki sifat sama. Pola ini berdasarkan anggapan bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi maka akan ada persamaan pula dalam bidang yang lain.

Contoh:

Alam semesta berjalan dengan sangat teratur, seperti halnya mesin. Matahari, bulan dan bintang yang berjuta-juta jumlahnya, beredar dengan teratur, seperti teraturnya roda mesin yang rumit berputar. Semua bergerak mengikuti irama tertentu. Mesin rumit itu ada penciptanya, yaitu manusia. Tidaklah alam yang Mahabesar dan beredar rapi sepanjang masa ini tidak ada penciptanya? Pencipta alam  tentu adalah zat yang sangat maha. Manusia yang menciptakan mesin, sangat sayang akan ciptaannya. Pasti demikian pula dengan Tuhan, yang pasti akan sayang kepada ciptaan-ciptaan-Nya.

3. Hubungan Kausalitas

      Hubungan kausalitas adalah pola penyusunan paragraf dengan menggunakan fakta-fakta yang memiliki pola hubungan sebab-akibat.

Contoh :

Jika hujan-hujanan , Rini akan sakit kepala atau Rini pergi ke dokter karena ia sakit kepala


c. Paragraf Campuran

      Paragraf campuran adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti kalimat-kalimat penjelas dan diakhiri dengan kalimat topik. Kalimat topik yang ada pada akhir paragraf merupakan penegasan dari awal paragraf.

Contoh :

   Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat dilepaskan dari komunikasi. Kegiatan apa pun yang dilakukan manusia pasti menggunakan sarana komunikasi, baik sarana komunikasi yang sederhana maupun yang modern. Kebudayaan dan peradaban manusia tidak akan bisa maju seperti sekarang ini tanpa adanya sarana komunikasi

Kalimat Efektif

 


Kalimat Efektif

A. Pengertian Kalimat Efektif

Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, maupun 

pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.  Kalimat efektif sebagai kalimat yang mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaannya.

Kalimat efektif adalah kalimat yang terdiri atas kata-kata yang mempunyai unsur SPOK atau kalimat yang mempunyai ide atau gagasan pembicaraan atau penulis

B. Ciri-ciri Kalimat Efektif

1. Memilliki unsur penting atau pokok, minimal unsur subjek (S) dan predikat (P)

2. Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku.

3. Menggunakan diksi yang tepat.

4. Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis.

5. Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.

6. Melakukan penekanan ide pokok.

7. Mengacu pada kehematan penggunaan kata.

8. Menggunakan variasi struktur kalimat.

C. Tujuan Kalimat efektif

Tujuan penggunaan kalimat efektif adalah menyampaikan gagasan, informasi, perasaan dari si penulis kepada si pembaca agar tidak terjadinya kesalahan. Kalimat efektif banyak digunakan pada tulisan ilmiah seperti makalah, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, dan sebagainya


Kalimat efektif berbeda dengan kalimat yang dipakai oleh para sastrawan atau wartawan.

D. Jenis Kalimat

1. Kalimat tunggal : Kalimat tunggal merupakan kalimat yang hanya mempunyai satu gagasan utuh terdiri atas satu subjek (S) dan satu predikat (P).

Contoh; Bayu pergi, Adik bermain, Andi tertidur

2. Kalimat majemuk : Kalimat majemuk merupakan kalimat yang dibentuk dari gabungan dua atau lebih klausa. Kalimat majemuk merupakan penggabungan dua kalimat tunggal dengan menggunakan konjungsi. Dalam sebuah kalimat majemuk akan terdapat induk kalimat dan anak kalimat. Ciri kalimat majemuk yaitu:

a. Ada perluasan atau penggabungan dari kalimat inti

b. Perluasan menghasilkan pola kalimat baru

c. Terdapat beberapa unsur yang sama dalam satu kalimat

3. Kalimat majemuk setara : Dibentuk dari dua atau lebih kaliimat tunggal dan kedudukan kedua klausa sederajat. Konjungsi yang digunakan terdiri dari dan, baik, maupun, tetapi, sedangkan, atau, dan lalu.

Contoh : Guru itu menerangkan pelajaran sedangkan muridnya memperhatikannya dengan seksama.

4. Kalimat majemuk bertingkat

Kalimat yang terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat sehingga kedudukannya tidak sama. Konjungsi yang digunakan ketika, andaikata, agar, sebagaimana, dan dengan.

Contoh : Bapak pulang ketika ibu sedang menyiapkan makanan.


E. Syarat-syarat Kalimat Efektif

1. Kesatuan gagasan : 

adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang digunakan. Kesatuan gagasan kalimat ini diperlihatkan oleh kesepadanan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.

Ciri-ciri kesatuan gagasan :

a. Adanya subjek dan predikat yang jelas.

Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat menyebabkan kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, dan sebagainya di depan subjek.

Misalnya:

Di rumah adat para petua mendiskusikan masalah kejahatan yang terjadi. (Salah)

Para tetua adat mendiskusikan masalah kejahatan yang terjadi di rumah adat. (Benar)

b. Tidak terdapat subjek ganda.

Misalnya:

Pembangunan jalan itu kami dibantu oleh warga desa. (Salah)

Dalam membangun jalan itu, kami dibantu oleh warga desa. (Benar)

c. Tidak menggunakan kata penghubung dalam kalimat tunggal.

Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama (Salah)

Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (Benar)

2. Koherensi (kepaduan) yang Baik dan Kompak

Koherensi atau kepaduan dalam kalimat adalah hubungan timbal balik yang benar diantara unsur pembentuk kalimat, yaitu antara subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Kesalahan yang sering merusakkan kepaduan adalah menempatkan kata depan, kata penghubung yang tidak sesuai atau tidak pada tempatnya, perapatan kata aspek atau keterangan modalitas yang tidak sesuai, dan sebagainya.

Ciri-ciri koherensi

a. (Kalimat yang baik) : Adik memakan ikan kembung tadi pagi.

b. (Kalimat yang tidak baik) : Ikan memakan kembung adik tadi  pagi.

c. (Kalimat yang kurang padu) : Sejak lahir, manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alam, atau kepada  pihak lain karena merasa dirinya lebih  kuat (tanpa kepada).

d. (Kalimat yang tumpang tindih) : banyak para penjahat yang mencoba melarikan diri. (seharusnya cukup banyak penjahat atau para penjahat saja).

e. (baik)  : Saya sudah membuat suasana menjadi kondusif.

 (salah)   : Suasana saya sudah buat menjadi kondusif.

F. Penekanan

Dalam bahasa lisan kita dapat menggunakan intonasi, gerak-gerik dan sebagainya untuk memberi tekanan pada sebuah kata. Penekanan dalam kalimat adalah upaya pemberian aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada salah satu unsure atau bagian kalimat, agar unsure atau bagian kalimat yang diberi penegasan/penekanan itu lebih mendapat perhatian dari pendengar atau pembaca. Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberi penekanan pada kalimat, antara lain dengan cara pemindahan letak frase dan mengulangi kata-kata yang sama.

Contoh : 

1. Mengubah posisi kata/frasa 

Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakan lagi soal  ini.         

2. Mempergunakan repetisi kata/frasa

Kemajuannya menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi. 

3. Pertentangan kata/frasa 

Anak itu bukan rajin dan jujur, tetapi curang dan licik.

4. Partikel penekanan

Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.

G. Variasi

Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi jika repetisi lebih banyak menekankan kesamaan bentuk, maka variasi justru menghindarinya agar tidak terlalu monoton, oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut suatu paragraf dalam tulisan memerlukan bentuk pola, dan jenis kalimat yang beragam bentuk-bentuk bahasa agar terpelihara minat dan perhatian para pembaca. Untuk itu dalam variasi dapat  dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Contoh:

1. Variasi sinonim kata : Variasi berupa sinonim kata, atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakekatnya tidsak merubah isi dari amanat yang akan disampaikan

Seribu armada AS di kerahkan untuk menyerang pasukan Palestina.

2. Variasi panjang pendeknya kalimat : jika kita menghadapi kalimat atau rangkaian kalimat panjang yang identik strukturnya, maka itu merupakan pertanda bahwa kalimat tersebut kurang baik digarap, serta pikiran pengarang sendiri tidak jelas

Sastra menjadi wadah untuk mencurahkan kegelisahan tentang cinta, kepribadian tujuan hidup, sistem politik serta sebagai sarana media satir. (mengandung 22 kata)

3. Variasi penggunaan bentuk me dan di : Pemakaian bentuk gramatika yang sama dalam beberapa kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Oleh krena itu harus dicari variasi pemakaian gramatikal, terutama yang menggunakan kata kerja yang mengndung prefiks me- dan di-

Pemerintah DKI Jakarta fokus untuk membangun rumah susun, dengan cara mengoptimalkan sumber dana yang ada.

4. Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat : Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat sebenarnya mempunyai sangkut paut juga dengan penekanan dalam kalimat.

Guru diharapkan mempunyai banyak wawasan tentang sastra, agar si murid mendapat pelajaran tentang sastra yang mendalam dan menyeluruh.

H. Paralelisme

Paralisme menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur / konstruksi gramatikal yang sama. Paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan memperhatikan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama.

Contoh:

BAIK : Mereorganisasi administrasi departemen departemen; menghentikan pemborosan dan  penyelewengan-penyelewengan, serta memobilisir potensi-potensi nasional, merupakan masalah-masalah pokok yang meminta perhatian pemerintah kita, (semuanya kata kerja).

SALAH : Reorganisasi administrasi departemen-departemen menghentikan pemborosan dan penyelewengan-penyelewengan, sera mobilisasi potensi-potensi nasional, merupakan masalah-masalah pokok yang meminta perhatian pemerintah kita.

I. Penalaran atau Logika

Penalaran (reasoning) adalah proses mental dalam mengembangkan pikiran logis (nalar) dari beberapa fakta atau prinsip. Dengan kata lain penalaran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubungkan fakta-fakta menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal. tulisaan-tulisan yang jelas dan tearah merupakan perwujudan dari berpikir logis.

1. Definisi (batasan) : Definisi atau batasan yang tepat merupakan kunci dari ciri berpikir  yang logis, dan dengan demikian juga menjadi ciri-ciri menulis yang logis.

1) Definisi berupa sinonim kata

Contoh:

Pendidikan = pengajaran

Kemerdekaan   = kebebasan

2) Definisi berdasarkan etimologi

Contoh:

Referendum: Referendum berasal dari kata re + ferre yang ‘membawa kembali’, hal yang harus idajukan kembali (untuk dipertimbangkan)

3) Definisi formal atau rill, atau disebut juga definisi logis

Contoh 

Pokok Kelas /  genus

1.  Gergaji adalah semacam alat pemotong

2.  Permadani adalah semacam alat penutup lantai

3. Generalisasi : Generalisasi adalah suatu pernyataan yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai beberapa hal yang semacam , adalah benar atau berlaku pula untuk kebanyakan dari peristiwa atau hal yang sama.

Contohnya :

BERLEBIHAN : Orang-orang yang luar biasa radikal pada masa mudanya SELALU menjadi konservatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan.

BAIK : Bahkan pemuda-pemuda yang sangat radikal pun tampaknya akan menjadi konservatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan.

Selasa, 05 Januari 2021

KUTIPAN


 



Pengertian Kutipan

Kutipan adalah upaya penulis untuk memperkuat gagasannya dengan mengutip pendapat ahli dibidangnya atau upaya menyampaikan gagasannya dengan menyampaikan gaggasan para ahli. Oleh karena itu, Keraf (1994: 179) mendefinisikan kutipan sebagai pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang pengarang atau ucapan seorang pengarang yang terkenal baik yang terdapat dalam buku ataupun majalah.


Jenis Kutipan

1. Kutipan Langsung
Secara mekanisme, kutipan langsung memiliki dua pola penulisan yang masing-masing pola ditentukan oleh banyaknya teks yang dikutip.

Kutipan  yang tidak lebih dari 4 baris:
a) Kutipan terintegarasi dengan teks
b) Kutipan diawali dan diakhiri oleh tanda kutip
c) Mencantumkan sumber referensi

Contoh:
Pembelajaran sebagai suatu yang bersifat sistematis tersebut dinyatakan pula oleh Dimyanti dan Mudjono (1999: 297) yang menyatakan bahwa, "pembelajaran merupakan kegiatan guru secara terperogram dalam desain intruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar"

Adapun kutipan yang lebih dari empat baris:
a) Kutipan dipisahkan dari teks utama
b) Kutipan tidak diawali dengan tanda kutip
c) Kutipan ditulis 1 spasi walaupun teks utama 2 atau 1,5 spasi.

Contoh:
Strategi pembelajaran bahasa Indonesia menurut Iskandar Wassid dan Sunendar (2009: 8) memiliki pengertian,

Pola keterampilan pembelajaran yang dipilih pengajar untuk melaksanakan program pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia. Program tersebut dirancang dapat menciptakan situasi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik melakukan aktivitas mental dan intelektual secara optimal untuk mencapai tujuan keterampilan berbahasa Indonesia yang terdiri atas keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.


2.  Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung berbeda dengan kutipan langsung. Hal ini bisa dilihat dari teknis penulisannya sebagai berikut:
a) Terintegarasi dengan teks utama
b) Tidak diapit oleh tanda kutip
c) Teks kutipan sesuai dengan teks utama. Jika 1 spasi, maka 1 spasi begitupun jika 1,5 spasi atau 2 spasi
d) Mencantumkan sumber kutipan

Contoh:
Majas menurut Nurgiyamtoro (1987: 297) merupakan kata-kata yang tidak merujuk pada makna harfiah melainkan pada makna yang ditambah atau makna yang tersirat.


Fungsi Kutipan

1. Kegiatan pengutipan dapat mengindari pengutip dari kegiatan plagiarisme
2. Membantu pembaca yang ingin memahami lebih lanjut tentang ide pengutip
3. Sumber pengutipan yang digunakan dapat memberikan nilai terhadap karya ilmiah yang sedang atau telah dibuat
4. Pengutipan yang tepat akan mengamankan penulis pada ide orang lain yang salah
5. Menguatkan tulisan pengutip melalui kutipan yang dimuat dalam karya ilmiah


Teknik Mengutip Berdasarkan Penulisan Sumbernya

Baik kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung, keduanya harus disertai dengan sumber rujukan. Dalam menyampaikan sumber rujukannya, paling tidak ada dua variasi yaitu catatan tubuh karangan (body note) dan catatan kaki (foot note). Menurut Keraf (1994: 194) penyampaian sumber rujukan berfungsi untuk menyusun pembuktian maupun utang budi. Sedangkan khusus untuk catatan kaki, dapat dijadikan sebagai keterangan tambahan maupun untuk merujuk bagian lain dari teks. Berikut ini teknik mengutip berdasarkan penulisan sumbernya :


1. Catatan dalam Tubuh Karangan (Body Note)
Penggunaan body note dalam menyampaikan sumber rujukan digunakan pada artikel atau karangan yang dimuat dikoran ataupun majalah yang tidak memungkinkan penulisan sumber rujukan dengan pola catatan kaki. Selain itu penulisan buku pun menggunakan pola body note. Dalam body note terdiri dari tiga unsur yakni nama pengarang, tahun terbit dan halaman. 
1. Untuk nama pengarang, cukup ditulis nama akhirnya saja dan ditulis tanpa gelar.
2. Untuk tahun terbit yang ditulis adalah tahun terbit yang ada pada katalog buku yang lazim ada pada awal buku. 
3. Adapun halaman yang ditulis disini adalah halaman teks yang dijadikan rujukan bukan halaman karangan kira sendiri.


2. Catatan Kaki (Foot Note)
Catatan kaki lebih sering digunakan dalam tugas-tugas perkuliahan seperti pembuatan makalah, skrispsi, dan tesis. Penulisan sumber kutipan dengan cara catatan kaki jauh lebih rumit dibandingkan dengan body note. Penggunaan catatan kaki memudahkan pembaca untuk mengetahui secara cepat sumber referensi yang digunakan oleh penulis. Berikut ini unsur catatan kaki dengan penjelasannya:
a) Nomor Petunjuk
letaknya diawal dengan bentuk angkah arab yang menggantung diatas dan berurutan secara berkesinambungan
b) Nama Pengarang, 
ditulis seperti biasa, tidak dibalik dengan gelar yang tidak dicantumkan
c) Judul Karangan, 
jika bersumber dari buku, maka judul tersebut dicetak miring dan jika bersumber dari majalah, koran atau internet maka diapit dengan tanda kutip
d) Data Kepustakaan, 
meliputi kota terbit, penerbit dan tahun terbit. Ketiga hal itu berada di dalam tanda kurung dengan nama kota diawal yang diikuti oleh titik dua untuk kemudian ditulis nama penerbitnya. Setelah nama penerbit, barulah tahun terbitdengan nama penerbit yang dipisah dengan koma. Hal ini berbeda dengan sumber yang berasal dari jurnal, majalah atau koran dalam catatan kaki ini nama jurnal, majalah atau koran tersebut dicetak miring diikuti oleh tanggal penerbitan. Khusus untuk internet, hal yang disampaikan adalah nama laman (website) diikuti tanggal pengaksessan
e) Halaman
ditulis diakhir catatan kaki. Ada yang menyingkat kata halaman ini dengan nama hlm atau hal yang kemudian diikuti oleh halaman referensi yang dirujuk. Setelah itu, barulah kemudian diakhiri dengan tanda titik


Kiat-Kiat Mengutip

1. Menerangkan Kutipan
Membahas kembali kutipan yang telah dikutip, dengan mengkaitkan antara kutipan dengan pembahasan yang dibahas

2. Memperkuat Gagasan dengan Kutipan
Kutipan diletakkan setelah pendapat penulis, yang seakan-akan kutipan tersebut menjadi dalil pembenaran atas pendapat penulis

3. Menyimpulkan Beberapa Kutipan
Kutipan-kutipan tersebut harus satu konsep atau sederajat sehingga memungkinkan untuk melakukan penyimpulan.

4. Membandingkan Beberapa Kutipan
Mengidentifikasi perbedaan yang ada antara satu kutipan dengan kutipan lainnya.

Kamis, 19 November 2020

Pertumbuhan Ekonomi dan Struktur Perekonomian Indonesia

 


Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan dalam kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barang dan jasa. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi lebih menunjuk pada perubahan yang bersifat kuantitatif (quantitatif change) dan biasanya diukur dengan menggunakan data produk domestik bruto (PDB) atau pendapatan output perkapita.

  •  faktor - faktor pertumbuhan ekonomi terbagi menjadi 6 yaitu :

1. Sumber daya manusia

2. Sumber daya alam

3. Ilmu pengetahuan 

4. Teknologi

5. Budaya

6. Sumber daya modal

            Struktur ekonomian Struktur ekonomi adalah komposisi peranan masing-masing sektor dalam perekonomian baik menurut lapangan usaha maupun pembagian sektoral ke dalam sektor primer, sekunder, dan tersier. Struktur ekonomi dapat ditinjau dari faktor alami/ murni yang terbentuk dari lingkungan dan sumber daya yaitu sektor agraris, industrial, niaga. Dan juga dapat ditinjau dari tinjauan ekonomi politik yaitu Etatis, Egaliter, Borjuis (dalam penyelengaraan kenegaraan) dan Sentralisasi, Desentralisasi (dalam pengambilan keputusan).

  • Faktor terjadinya perubahan struktur ekonomi

1. Produktifitas tenaga kerja

2. Moderenisasi peningkatan nilai tambah bahan baku barang setengah jadi dan barang jadi

3. Kreativitas dan penerapan teknologi disertai kemampuan untuk memperluas pasar produk atau jasa yang dihasilkan

4. Kebijakan pememrintah yg mendorong pertumbuhan dan pengembangan

5. Ketersediaan infrastruktur yg menentukan kelancaran aliran distriusi barang dan jasa

  • Struktur ekonomi dpt ditinjau dari 4 tinjauan

1. Tinjuan makro (tinjauan ekonoi murni)

2. Tinjuan  keruangan sektoral (tinjauan ekonoi murni)

3. Tinjauan penyelenggaraan kenegaraan (tinjauan ekonoi politik)

4. Tinjauan birokarsi (tinjauan ekonoi politik)


Penulis Astri Yastika, Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Jumat, 06 November 2020

Sekelumit tentang Paradigma Perekonomian Indonesia pada Masa Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi

 Perekonomian di Indonesia bermula pada hari kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 1945 pada saat itu Indonesia telah menentukan untuk terbebas dari penjajahan. Perekonomian Indonesia dibagi kedalam 3 waktu yaitu 

o Perekonomian orde lama (1945 – 1966)

Situasi perekonomian penting pada masa orde lama

1. Pertumbuhan Ekonomi 

Pada Desember 1949 – 1950 pada masa Kabinet Hatta terjadilah Reformasi moneter 

Pada periode 1951 – 1966 pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,7% per tahun pada saat itu juga di tahun1955 – 1960 terjadi inflasi tinggi mencapai 23,5% dikarenakan kebijakan baru untuk mencetak uang 

2. Nasionalisme perusahaan asing pada 1951 

Pemberlakuan UU No.78 tahun 1958 tentang Investasi Asing hal ini memperburuk perekonomian di Indonesia, termaksud penutupan bursa efek pada 1958

3. Penggabungan semua bank milik pemerintah

Pada tahun 1965 telah didirikan Bank Berjuang sistemnya hanya untuk sebagai pemasok dana pemerintahan 

4. Angkatan Kerja, Perkerjaan, dan Upah

Jumlah penggangguran pada angkatan kerja sebanyak 1,8 juta dari 34,5 juta angkatan kerja

Pada tahun 1953 pekerja di daerah Jakarta menerima upah sebesar Rp5-6 per hari (pekerja nonterampil) dan Rp10-20 per hari (pekerja terampil)

Angkatan perkerjaan dibagi 4 sektor yaitu :

1. Di sektor pertanian terdapat 72% angkatan perkerja

2. Disektor jasa terdapat 9,5% 

3. Disektor Perdagangan dan Keuangan Terdapat 6,7% 

4. Sedangakan di Sektor Industri Terdapat 5,7%  

5. Neraca Ekonomi Nasional

Tahun 1955 – 1965 anggaran pemerintah mengalami defisit sebesar 137% dari pendapatan, sehingga Negara kita melakukan pinjaman ke luar negri 

o Perekonomian pada Masa Orde Baru (1966 – 1998)

o Pembangunan jangka pendek pemerintah memiliki 4 tahap pelaksanaan yaitu : 

1. Tahap penyelamatan

2. Tahap Rehabilitas 

3. Tahap Konsolidasi 

4. Tahap Stabilisasi 

o Terdapat dua Pemberlakuan kebijakan :

1. Tiga UU baru tentang Perbankan 

2. Kebijakan Anggaran Berimbang

o Pelaksanaan Pembangunan Nasional

Seperti telah disebutkan bahwa Pembangunan nasional direalisasikan melalui Pembangunan Jangka Pendek dan Pembangunan Jangka Panjang. Dan Pembangunan Jangka Pendek dirancang melalui program Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Selama masa Orde Baru, pemerintah telah melaksanakan enam Pelita yaitu:  

1. Pelita I

Pelita I dilaksanakan mulai 1 April 1969 sampai 31 Maret 1974,  tujuan Pelita I adalah meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan tahap berikutnya. Titik beratnya adalah pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan untuk mengejar keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang pertanian, karena mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian.

2. Pelita II

Pelita II mulai berjalan sejak tanggal 1 April 1974 sampai 31 Maret 1979. Sasaran utama Pelita II ini adalah tersedianya pangan, sandang, perumahan, sarana prasarana, mensejahterakan rakyat, dan memperluas kesempatan kerja. Pelaksanaan Pelita II dipandang cukup berhasil. Pada awal pemerintahan Orde Baru inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I inflasi berhasil ditekan menjadi 47%. Dan pada tahun keempat Pelita II inflasi turun menjadi 9,5% 

3. Pelita III

Pelita III dilaksanakan pada tanggal 1 April 1979 sampai 31 Maret 1984. Pelaksanaan Pelita III masih berpedoman pada Trilogi Pembangunan, dengan titik berat pembangunan adalah pemerataan yang dikenal dengan Delapan Jalur Pemerataan.

4. Pelita IV

Pelita IV dilaksanakan tanggal 1 April 1984 sampai 31 Maret 1989. Titik berat Pelita IV ini adalah sektor pertanian untuk menuju swasembada pangan, dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri. Dan di tengah berlangsung pembangunan pada Pelita IV ini yaitu awal tahun 1980 terjadi resesi. Untuk mempertahankan kelangsungan pembangunan ekonomi, pemerintah mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal. Dan pembangunan nasional dapat berlangsung terus.

5. Pelita V

Pelita V dimulai 1 April 1989 sampai 31 Maret 1994. Pada Pelita ini pembangunan ditekankan pada sector pertanian dan industri. Pada masa itu kondisi ekonomi Indonesia berada pada posisi yang baik, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6,8% per tahun. Posisi perdagangan luar negeri memperlihatkan gambaran yang menggembirakan. Peningkatan ekspor lebih baik dibanding sebelumnya.

6. Pelita VI

Pelita VI dimulai 1 April 1994 sampai 31 Maret 1999. Program pembangunan pada Pelita VI ini ditekankan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya. Namun pada periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian telah menyebabkan proses pembangunan terhambat, dan juga menyebabkan runtuhnya pemerintahan Orde Baru.

Perekonomian Indonesia pada Masa Reformasi

1. Profil perekonomian Indonesia tahun 1996–1997

Laju Inflasi 34,22% dari 5,17% pada tahun 1996/1997

Tingkat Pengangguran 4,9% pada tahun 1996

7,5% pada tahun 1997

2. Langkah pemerintah dalam menjalankan program penyehatan ekonomi Indonesia

a. Kebijakan Fiskal 

b. Kebijakan Moneter 

c. Restrukturisasi Sektor Keuangan 

d. Reformasi Struktural di Sektor Riil

e. Kebijakan Perdagangan Luar Negeri  

f. Kebijakan Investasi 

g. Jaringan Pengaman Sosial


Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

- Karakteristik pemerintahan SBY (pemerintahan gotong royong)

1. Rendahnya pertumbuhan ekonomi dikarenakan masih kurang berkembangnya investasi yang paling utama disebabkan oleh tidak stabilnya kondisi sosial politik dalam negeri.

2. Dalam hal ekspor, sejak tahun 2000, nilai ekspor non-migas Indonesia terus merosot

- Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era SBY dan JK (2004–2009) 

1. Kebijakan pengurangan subsidi BBM

2. PNPM Mandiri & Jamkesmas

3. MP3EI

4. Kebijakan BLT

5. Indonesian Infrastructure Summit

6. Strategi pembangunan ekonomi: pro-poor, pro-job, pro-growth, dan pro environment

- Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid II Era SBY dan Boediono (2009–2014) 

A. Kebijakan BI rate

B. Kebijakan nilai tukar

C. Kebijakan operasi moneter 

D. Kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan likuiditas dan makroprudensial lalu lintas modal

Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi

1. Kebijakan Ekonomi Tahap I

Paket kebijakan ekonomi tahap I yang dirilis pada 9 September 2015 merupakan gebrakan dari kebijakan secara makro dan menyeluruh yang diharapkan dapat membuka jalan bagi kebijakan-kebijakan ekonomi selanjutnya guna memperkuat pertumbuhan dan stabilisasi ekonomi Indonesia.

2. Kebijakan Ekonomi Tahap II

Paket kebijakan ekonomi tahap II yang diharapkan dapat meningkatkan investasi dan membantu likuiditas perbankan di Indonesia guna menopang pertumbuhan ekonomi.

3. Kebijakan Ekonomi Tahap III

Paket kebijakan ekonomi tahap III bertujuan meningkatkan sektor supply agar para pelaku industri dapat bertumbuh secara sustainable.

4. Kebijakan Ekonomi  Tahap IV

Paket kebijakan ekonomi tahap IV bertujuan mensejahterakan para buruh serta pelaku industri kecil atau mikro. 

5. Kebijakan Ekonomi Tahap V

Paket kebijakan ekonomi tahap V berfokus pada sisi insentif yang dapat diberikan pemerintah kepada pengusaha agar semakin produktif dan berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. 

6. Kebijakan Ekonomi Tahap VI

Paket kebijakan ekonomi tahap VIditujukan bagi industri-industri yang berada di daerah pinggiran dan dengan spesifikasi produk khusus, antara lain:

Insentif pajak bagi industri di wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

Perizinan (deregulasi) tentang penyediaan air 

Perizinan (deregulasi) impor untuk industri obat


Penulis Astri Yastika, Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Paragraf

  Pengertian Paragraf Paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Sebuah paragraf bias...